Blog / Insight Data Perdagangan / Ekspor Minyak Jelantah 2026: Data, Negara Tujuan, Harga, dan Aturan Terbaru

Ekspor Minyak Jelantah 2026: Data, Negara Tujuan, Harga, dan Aturan Terbaru

Ringkasan Utama

  • Vietnam memimpin sebagai negara pengekspor minyak jelantah terbesar senilai US$63,58 juta sepanjang H1 2026, menguasai hampir 89% nilai perdagangan global komoditas ini menurut catatan TradeInt.
  • Malaysia menjadi negara tujuan terbesar dengan nilai US$39,78 juta, menyerap lebih dari separuh arus impor global untuk diolah menjadi biodiesel dan bahan bakar terbarukan.
  • Indonesia mengambil arah berlawanan dengan melarang ekspor minyak jelantah sejak awal 2026, memilih menahan pasokan untuk memproduksi bioavtur dan mencapai kemandirian energi.

Bagaimana Status Ekspor Minyak Jelantah dan Kode HS-nya?

Minyak jelantah, atau used cooking oil (UCO), merupakan limbah minyak goreng bekas yang diperdagangkan sebagai bahan baku (feedstock) energi terbarukan. Komoditas ini masuk dalam kode HS 15180060 dan menjadi bahan utama produksi biodiesel serta sustainable aviation fuel (SAF) di pasar global.

Pasar ekspor minyak jelantah global mencatat nilai sekitar US$71,44 juta sepanjang H1 2026 berdasarkan data TradeInt, dengan total 167 pengiriman. Vietnam menjadi pemasok dominan, sementara Indonesia berada di posisi ketiga sebagai negara asal ekspor meski dengan kebijakan yang bergerak ke arah berbeda.

Indonesia justru menutup keran ekspornya di tengah permintaan global yang tinggi. Presiden Prabowo Subianto mengumumkan larangan ekspor limbah sawit dan minyak jelantah pada awal 2026, dengan alasan bahan baku ini harus diprioritaskan untuk produksi bioavtur dalam negeri dan kemandirian energi nasional.

Beberapa hal yang membentuk status ekspor minyak jelantah:

  • Bahan baku energi terbarukan: minyak jelantah menjadi feedstock utama biodiesel dan SAF yang diminati Eropa dan Amerika.
  • Nilai strategis meningkat: status limbah berubah menjadi komoditas bernilai tinggi seiring transisi energi global.
  • Kebijakan Indonesia berbalik arah: larangan ekspor diberlakukan untuk mengamankan pasokan domestik demi hilirisasi energi.
  • Cara ekspor minyak jelantah: eksportir di negara yang mengizinkan tetap perlu memenuhi sertifikasi keberlanjutan seperti ISCC untuk masuk pasar premium.

Indonesia berada di persimpangan antara peluang ekspor dan ambisi energi. Permintaan global yang kuat membuka nilai ekonomi besar, namun pemerintah memilih menahan pasokan untuk membangun industri bahan bakar terbarukan domestik yang bernilai tambah lebih tinggi.

Baca selengkapnya:

Top 10 Negara Pengimpor Minyak Sawit Indonesia 2026

Negara Mana Saja Pengekspor Minyak Jelantah Terbesar di Dunia?

Berdasarkan data ekspor global minyak jelantah di TradeInt untuk periode Januari hingga Juni 2026, Vietnam menjadi negara pengekspor terbesar senilai US$63,58 juta, disusul Malaysia US$5,15 juta dan Indonesia US$2,72 juta. Ketiga negara Asia Tenggara ini mendominasi sisi pasokan minyak jelantah global, mencerminkan besarnya volume limbah minyak goreng yang dihasilkan kawasan dengan konsumsi minyak sawit tinggi.

Tiga negara pengekspor minyak jelantah terbesar:

  • Vietnam - US$63,58 juta: pemasok dominan yang menguasai sekitar 88,99% nilai ekspor global.
  • Malaysia - US$5,15 juta: eksportir sekaligus pengolah minyak jelantah menjadi produk turunan bernilai tambah.
  • Indonesia - US$2,72 juta: negara asal ekspor yang kini memberlakukan larangan ekspor demi kebutuhan domestik.
Peringkat Negara Asal Nilai (US$) Nilai (%) Kuantitas
1 Vietnam 63.578.042,60 88,99% πŸ”’ Unlock data on TradeInt
2 Malaysia 5.145.551,18 7,20% πŸ”’ Unlock data on TradeInt
3 Indonesia 2.717.167,43 3,80% πŸ”’ Unlock data on TradeInt

Sumber: TradeInt Global Export Data, basis data Bill of Lading, Januari-Juni 2026

Vietnam: Pemasok Dominan yang Naik karena Kekosongan Pasokan

Vietnam menguasai sisi ekspor karena mengisi kekosongan yang ditinggalkan pembatasan pasokan dari negara tetangga. Ketika Indonesia mulai memperketat ekspor pada awal 2025, pembeli di kawasan Selat Malaka mengalihkan pembelian ke Vietnam, Thailand, dan Malaysia untuk mengamankan bahan baku biofuel.

Pergeseran ini mengangkat volume ekspor Vietnam secara tajam. Ekspor UCO Vietnam meningkat dari 18.745 ton menjadi 31.744 ton antara kuartal pertama dan kedua 2025, seiring pembeli mencari sumber alternatif di luar Indonesia.

Namun pertumbuhan cepat ini membawa tantangan mutu dan ketertelusuran. Pembeli Eropa menyoroti dokumentasi yang tidak konsisten dan rantai pasok yang kurang transparan, sehingga sebagian pengiriman menghadapi risiko penolakan di pelabuhan tujuan.

Ekspor Minyak Jelantah Vietnam

Yang menonjol dari ekspor Vietnam:

  • Naik karena celah pasokan: pembatasan Indonesia mendorong pembeli beralih ke Vietnam sebagai sumber utama.
  • Volume melonjak cepat: ekspor UCO nyaris berlipat dalam dua kuartal sepanjang 2025.
  • Tantangan ketertelusuran: dokumentasi yang belum rapi menimbulkan risiko penolakan di pasar Eropa.

Malaysia: Eksportir Sekaligus Pengolah dengan Bahan Baku Sawit

Malaysia menempati posisi kedua dengan peran ganda sebagai pengekspor sekaligus pengolah minyak jelantah. Minyak jelantah asal Malaysia sebagian berbasis sawit dengan bilangan iod yang lebih rendah, sehingga membutuhkan deklarasi asal yang jelas untuk memenuhi standar pembeli internasional.

Posisi ini membuat Malaysia menghadapi pengawasan ketat dari pembeli Eropa. Importir di Uni Eropa menerapkan uji tuntas tambahan terhadap minyak jelantah asal Asia, menuntut dokumen rantai pengawasan penuh sebelum menerima pasokan.

Meski begitu, kapasitas pengolahan domestik memberi Malaysia keunggulan bernilai tambah. Alih-alih hanya mengekspor bahan mentah, Malaysia dapat mengolah minyak jelantah menjadi biodiesel dan produk turunan sebelum memasarkannya ke pasar global.

Ekspor Minyak Jelantah Malaysia

Catatan utama ekspor Malaysia:

  • Bahan baku berbasis sawit: karakter minyak menuntut deklarasi asal untuk memenuhi standar mutu.
  • Pengawasan Eropa ketat: pembeli menerapkan uji tuntas tambahan untuk minyak jelantah asal Asia.
  • Nilai tambah pengolahan: kapasitas domestik memungkinkan ekspor produk olahan, bukan sekadar bahan mentah.

Indonesia: Dari Eksportir Menjadi Penahan Pasokan Strategis

Indonesia berada di posisi ketiga sekaligus menjadi kasus paling menarik karena arah kebijakannya yang berbalik. Sepanjang H1 2026, Indonesia masih tercatat mengekspor senilai US$2,72 juta, namun pemerintah telah menetapkan larangan ekspor untuk menahan pasokan bagi kebutuhan energi domestik.

Keputusan ini berdampak jauh melampaui angka ekspor Indonesia sendiri. Pembatasan sejak awal 2025 sudah memicu pembeli kawasan mencari sumber alternatif, dan larangan penuh berpotensi mempercepat pergeseran arus dagang minyak jelantah di Asia Tenggara.

Bagi Indonesia, taruhannya adalah nilai tambah jangka panjang. Alih-alih menjual bahan mentah, pemerintah memilih mengolah minyak jelantah menjadi bioavtur dan biodiesel domestik, sebuah strategi yang menukar pendapatan ekspor jangka pendek dengan ambisi kemandirian energi.

Ekspor Minyak Jelantah

Yang perlu diperhatikan tentang Indonesia:

  • Masih tercatat ekspor: nilai US$2,72 juta di H1 2026 terekam sebelum larangan berlaku penuh.
  • Kebijakan berbalik arah: larangan ekspor menahan pasokan demi produksi bioavtur domestik.
  • Efek berantai kawasan: pergeseran pasokan Indonesia mendorong pembeli beralih ke Vietnam dan Malaysia.

Ke Mana Minyak Jelantah Dunia Paling Banyak Diekspor?

Minyak jelantah global paling banyak diekspor ke Malaysia senilai US$39,78 juta sepanjang H1 2026, jauh melampaui pasar lain. Italia dan Singapura menyusul di posisi kedua dan ketiga, mencerminkan permintaan kuat dari pusat pengolahan biodiesel dan bahan bakar terbarukan.

Vietnam dan Korea Selatan melengkapi lima besar negara tujuan, memperlihatkan bahwa arus impor terkonsentrasi pada negara-negara dengan kapasitas pengolahan biofuel yang besar.

Lima negara tujuan ekspor minyak jelantah terbesar:

  • Malaysia - US$39,78 juta: pusat pengolahan yang menyerap volume terbesar untuk diproses menjadi biodiesel.
  • Italia - US$10,75 juta: pintu masuk pasar Eropa dengan permintaan tinggi untuk feedstock biofuel.
  • Singapura - US$6,89 juta: hub perdagangan dan pengolahan bahan bakar terbarukan kawasan.
  • Vietnam - US$6,36 juta: negara asal ekspor sekaligus tujuan re-impor untuk pengolahan.
  • Korea Selatan - US$4,59 juta: pasar dengan permintaan berkembang untuk bahan bakar rendah karbon.
Peringkat Negara Tujuan Nilai (US$) Nilai (%) Pembeli Teratas Kuantitas
1 Malaysia 39.778.832,17 55,68% πŸ”’ Unlock data on TradeInt πŸ”’ Unlock data on TradeInt
2 Italia 10.747.500,00 15,04% πŸ”’ Unlock data on TradeInt πŸ”’ Unlock data on TradeInt
3 Singapura 6.893.248,50 9,65% πŸ”’ Unlock data on TradeInt πŸ”’ Unlock data on TradeInt
4 Vietnam 6.362.893,77 8,91% πŸ”’ Unlock data on TradeInt πŸ”’ Unlock data on TradeInt
5 Korea Selatan 4.593.740,00 6,43% πŸ”’ Unlock data on TradeInt πŸ”’ Unlock data on TradeInt

Sumber: TradeInt Global Export Data, basis data Bill of Lading, Januari-Juni 2026

Siapa Eksportir Minyak Jelantah Terkemuka?

Ekspor minyak jelantah global melibatkan sejumlah perusahaan pengolah dan pedagang bahan bakar terbarukan. Berdasarkan data TradeInt untuk H1 2026, PT Megasurya Mas dari Malaysia dan Cong Ty TNHH Eni Natural Energies Viet Nam dari Vietnam tercatat sebagai eksportir aktif, mencerminkan struktur pasar yang mencakup produsen oleokimia dan perusahaan energi.

Fathopes Energy dari Malaysia juga tampil sebagai pelaku utama di sisi ekspor, menegaskan peran perusahaan energi terbarukan dalam rantai pasok minyak jelantah global.

Eksportir minyak jelantah terkemuka:

  • PT Megasurya Mas (Malaysia): produsen oleokimia yang aktif mengekspor minyak jelantah dan produk turunannya.
  • Fathopes Energy Sdn Bhd (Malaysia): perusahaan energi terbarukan dengan volume ekspor signifikan.
  • Cong Ty TNHH Eni Natural Energies Viet Nam (Vietnam): unit energi yang mengolah dan mengekspor bahan baku biofuel.
Peringkat Nama Eksportir Negara Nilai (US$) Kuantitas
1 PT Megasurya Mas Malaysia πŸ”’ Unlock data on TradeInt πŸ”’ Unlock data on TradeInt
2 Fathopes Energy Sdn Bhd Malaysia πŸ”’ Unlock data on TradeInt πŸ”’ Unlock data on TradeInt
3 Cong Ty TNHH Eni Natural Energies Viet Nam Vietnam πŸ”’ Unlock data on TradeInt πŸ”’ Unlock data on TradeInt

Sumber: TradeInt Global Export Data, basis data Bill of Lading, Januari-Juni 2026

Siapa Pembeli Internasional Minyak Jelantah Terbesar?

Baca selengkapnya:

Negara Tujuan Ekspor Indonesia 2026: 10 Pasar Terbesar dan Analisis Komoditas

Siapa Pembeli Internasional Minyak Jelantah Terbesar?

Pembeli minyak jelantah internasional didominasi perusahaan energi dan bahan bakar terbarukan berskala global. Berdasarkan data TradeInt untuk H1 2026, Fathopes Energy dari Malaysia memimpin dengan 24 pengiriman, disusul Neste Asia Pacific dan Phillips 66 International Trading, keduanya raksasa energi dengan jejak global.

Shell International Eastern Trading dari Singapura dan Universal Candle Vietnam melengkapi lima besar, mencerminkan beragamnya pengguna minyak jelantah dari sektor energi hingga manufaktur.

Lima pembeli internasional minyak jelantah terbesar:

  • Fathopes Energy Sdn Bhd (Malaysia): perusahaan energi terbarukan dengan serapan pembelian tertinggi.
  • Neste Asia Pacific Pte Ltd (Malaysia): unit dari produsen bahan bakar terbarukan terkemuka dunia.
  • Phillips 66 International Trading Pte Ltd (Malaysia): perusahaan energi global yang mengolah feedstock biofuel.
  • Shell International Eastern Trading (Singapura): unit dagang raksasa energi untuk bahan bakar rendah karbon.
  • Universal Candle Vietnam Company Ltd (Vietnam): produsen yang menggunakan minyak jelantah untuk produk manufaktur.
Peringkat Nama Perusahaan Negara Pembelian Kuantitas
1 Fathopes Energy Sdn Bhd Malaysia πŸ”’ Unlock data on TradeInt πŸ”’ Unlock data on TradeInt
2 Neste Asia Pacific Pte Ltd Malaysia πŸ”’ Unlock data on TradeInt πŸ”’ Unlock data on TradeInt
3 Phillips 66 International Trading Pte Ltd Malaysia πŸ”’ Unlock data on TradeInt πŸ”’ Unlock data on TradeInt
4 Shell International Eastern Trading Singapura πŸ”’ Unlock data on TradeInt πŸ”’ Unlock data on TradeInt
5 Universal Candle Vietnam Company Ltd Vietnam πŸ”’ Unlock data on TradeInt πŸ”’ Unlock data on TradeInt

Sumber: TradeInt Global Export Data, basis data Bill of Lading, Januari-Juni 2026

Kehadiran nama seperti Neste, Phillips 66, dan Shell menegaskan bahwa minyak jelantah kini menjadi bahan baku strategis energi global. Perusahaan-perusahaan ini mengolah minyak jelantah menjadi bahan bakar terbarukan bernilai tinggi, sehingga persaingan memperebutkan pasokan semakin ketat di tengah keterbatasan sumber.

Baca selengkapnya: Impor Gula Indonesia

Bagaimana Eksportir Bisa Menembus Pasar Minyak Jelantah Global?

Nilai minyak jelantah kini terletak pada asal-usulnya yang bisa dibuktikan, bukan sekadar volumenya. Pembeli energi besar seperti kilang biodiesel Eropa hanya menerima pasokan yang lolos jejak keberlanjutan, sehingga eksportir yang mampu menunjukkan rantai pengumpulan bersih memegang kunci pasar premium.

Fondasi yang membedakan eksportir yang lolos dari yang tertahan:

  • Cek pintu keluar dulu: negara asal harus mengizinkan ekspor, karena larangan ekspor minyak jelantah di Indonesia menutup jalur yang sebelumnya terbuka.
  • Kantongi ISCC sejak awal: tanpa sertifikat keberlanjutan ini, pintu pasar Eropa yang paling menguntungkan praktis tertutup.
  • Rekam jejak tiap tetes: dokumentasikan asal minyak dari restoran hingga titik kumpul agar lolos audit pembeli energi.
  • Kunci harga di angka acuan: dengan patokan sekitar US$1.172 per ton pada pertengahan 2026, eksportir bisa bernegosiasi tanpa menebak.
  • Baca pasar lewat data: penelusuran berbasis HS 15180060 memperlihatkan siapa yang sedang aktif membeli dan seberapa sering, mempersempit fokus ke pembeli nyata.

Lonjakan pasokan dari China dan pergeseran arus akibat kebijakan Indonesia membuat peta pasar berubah dari bulan ke bulan. Eksportir yang menang bukan yang termurah, melainkan yang paling cepat membaca ke mana permintaan bergeser dan siapa pembeli yang siap membayar untuk mutu dan ketertelusuran.

Peta pembeli minyak jelantah berubah setiap kali satu negara mengubah kebijakannya. Buka akses ke importir aktif dan riwayat transaksinya di TradeInt untuk memastikan Anda menawarkan ke pihak yang tepat.

Kesimpulan

Pasar ekspor minyak jelantah global H1 2026 mencatatkan nilai US$71,44 juta dengan Vietnam sebagai pengekspor terbesar senilai US$63,58 juta, disusul Malaysia dan Indonesia. Di sisi tujuan, Malaysia menyerap volume terbesar senilai US$39,78 juta, diikuti Italia dan Singapura, seluruhnya untuk diolah menjadi bahan bakar terbarukan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Kenapa minyak jelantah dilarang ekspor dari Indonesia?

Minyak jelantah dilarang ekspor dari Indonesia sejak awal 2026 berdasarkan kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang memprioritaskan bahan baku ini untuk produksi bioavtur dan biodiesel domestik. Pemerintah menilai minyak jelantah sebagai bahan strategis untuk mencapai kemandirian energi, sehingga pasokannya ditahan untuk kebutuhan dalam negeri ketimbang diekspor.

Ekspor minyak jelantah kapan dibuka kembali?

Belum ada tanggal resmi pembukaan kembali ekspor minyak jelantah dari Indonesia. Pemerintah masih mempertahankan larangan tersebut untuk mendukung industri bahan bakar terbarukan domestik, sehingga pelaku usaha perlu memantau kebijakan resmi terbaru sebelum merencanakan aktivitas ekspor.

Berapa harga ekspor minyak jelantah di pasar global?

Harga ekspor minyak jelantah di pasar global tercatat sekitar US$1.172 per ton pada pertengahan 2026 untuk pengiriman FOB. Harga ini dipengaruhi oleh permintaan bahan bakar terbarukan, ketersediaan pasokan, dan sertifikasi keberlanjutan, sehingga dapat berfluktuasi mengikuti kondisi pasar biofuel internasional.