Blog / Insight Data Perdagangan / Indonesia Impor Apa Saja dari Amerika? Panduan Lengkap Komoditas Utama 2025-2026

Indonesia Impor Apa Saja dari Amerika? Panduan Lengkap Komoditas Utama 2025-2026

Key Takeaways

  • Berdasarkan perjanjian ART (Agreement on Reciprocal Trade) yang ditandatangani Februari 2026, Indonesia berkomitmen mengimpor produk energi senilai US$15 miliar, pesawat terbang senilai US$13,5 miliar, dan produk pertanian senilai US$4,5 miliar dari Amerika Serikat.
  • Lima kategori impor utama Indonesia dari AS meliputi produk migas (LPG dan minyak mentah), pesawat terbang dan komponen kedirgantaraan, produk pertanian (kedelai, gandum, kapas, jagung), mesin dan peralatan industri, serta produk kimia dan farmasi.
  • AS merupakan sumber impor nonmigas kelima terbesar bagi Indonesia dengan pangsa sekitar 4,86% pada semester I 2025, menjadikannya mitra dagang strategis di luar kawasan Asia.

Mengapa Impor dari Amerika Serikat Penting bagi Indonesia?

Hubungan perdagangan Indonesia dan Amerika Serikat terus mengalami dinamika signifikan sepanjang 2025 hingga awal 2026. AS merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia, dengan pangsa pasar ekspor mencapai 11,22% pada tahun 2024 dan menduduki posisi strategis sebagai negara asal penanaman modal asing sebesar US$3,7 miliar pada tahun yang sama.

Pertanyaan "Indonesia impor apa saja dari Amerika" menjadi semakin relevan setelah kedua negara menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) pada 19 Februari 2026. Perjanjian ini menurunkan tarif resiprokal AS terhadap produk Indonesia dari 32% menjadi 19%, sementara Indonesia berkomitmen menghapus sekitar 99% hambatan tarif untuk produk industri, makanan, dan pertanian asal AS, sebagaimana dirilis oleh

Selengkapnya: FAQ Perjanjian Perdagangan Resiprokal Indonesia-Amerika Serikat (Sekretariat Negara RI)

Menurut data BPS, nilai impor Indonesia secara keseluruhan pada Januari-Desember 2025 mencapai US$241,86 miliar, meningkat 2,83% dibanding tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, AS menempati posisi sebagai pemasok nonmigas ke-5 terbesar dengan pangsa 4,86% pada semester pertama 2025.

Lacak data impor Indonesia dari AS berdasarkan kode HS, nama produk, atau nama perusahaan melalui platform TradeInt Indonesia.

Daftar Komoditas Utama yang Diimpor Indonesia dari Amerika Serikat

Produk Energi: LPG, Minyak Mentah, dan Gasoline

Sektor energi mendominasi komitmen impor Indonesia dari AS. Dalam kerangka ART, Indonesia berkomitmen melakukan pembelian produk energi yang mencakup LPG (gas bumi cair), minyak mentah, dan gasoline senilai US$15 miliar. LPG menjadi komoditas unggulan ekspor AS ke Indonesia mengingat tingginya kebutuhan domestik untuk rumah tangga dan industri.

Indonesia merupakan salah satu konsumen LPG terbesar di dunia, sehingga pasokan dari AS menjadi krusial untuk menjaga stabilitas ketersediaan energi nasional. Selain itu, impor minyak mentah dari AS juga membantu diversifikasi sumber energi Indonesia yang selama ini bergantung pada pemasok Timur Tengah.

Pesawat Terbang dan Komponen Kedirgantaraan

Indonesia juga berkomitmen mengimpor pesawat terbang komersial dan komponen kedirgantaraan asal AS senilai US$13,5 miliar, termasuk pengadaan 50 unit pesawat Boeing (di antaranya Boeing 777). Kebutuhan modernisasi armada maskapai penerbangan nasional dan penguatan industri penerbangan menjadi pendorong utama tingginya impor di sektor ini.

Sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia memiliki kebutuhan transportasi udara yang sangat tinggi. Pengadaan pesawat baru dari AS tidak hanya mendukung konektivitas antarpulau, tetapi juga memperkuat posisi Indonesia sebagai hub penerbangan di kawasan Asia Tenggara.

Produk Pertanian: Kedelai, Gandum, Kapas, dan Jagung

Sektor pertanian merupakan salah satu pilar utama impor Indonesia dari AS. Berdasarkan kesepakatan ART, total komitmen pembelian produk pertanian mencapai US$4,5 miliar, meliputi kedelai, bungkil kedelai, gandum, kapas, dan jagung. Secara spesifik, Indonesia berkomitmen meningkatkan impor kedelai menjadi 3,5 juta ton, gandum hingga 2 juta ton, bungkil kedelai menjadi 3,8 juta ton, dan kapas sebanyak 163 ribu ton per tahun.

Menurut Liputan6 (Februari 2026), Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa impor gandum dan kedelai asal AS akan dikenakan tarif 0% melalui perjanjian ART. Komoditas ini tidak diproduksi secara memadai di dalam negeri dan menjadi bahan baku utama industri makanan dan minuman yang berkontribusi 7,13% terhadap PDB Nasional serta menyerap 6,7 juta tenaga kerja pada 2025.

Selain itu, Indonesia juga mengimpor buah-buahan segar dari AS seperti apel, jeruk, dan anggur, serta daging sapi dan produk unggas dalam bentuk live poultry (Grand Parent Stock) sebanyak 580.000 ekor untuk kebutuhan pembibitan, dengan estimasi nilai sekitar US$17-20 juta.

Lihat cakupan data perdagangan Indonesia-AS di halaman Data Coverage TradeInt.

Mesin, Peralatan Industri, dan Produk Teknologi

Impor mesin dan peralatan mekanis (termasuk reaktor nuklir dan boiler) serta mesin dan peralatan listrik merupakan komponen besar dari total impor Indonesia secara umum. BPS mencatat impor nonmigas pada Februari 2026 didorong oleh peningkatan pembelian mesin dan peralatan mekanis (naik 19,61%) serta mesin dan peralatan listrik (naik 51,60%). AS berperan sebagai pemasok peralatan berteknologi tinggi, termasuk komponen semikonduktor, sesuai dengan kesepakatan ekosistem semikonduktor yang tertuang dalam ART.

Kebutuhan Indonesia terhadap mesin dan peralatan industri dari AS terus meningkat seiring dengan agenda hilirisasi dan industrialisasi nasional. Investasi besar di sektor data center dan infrastruktur digital juga mendorong permintaan terhadap perangkat teknologi informasi dan komunikasi asal AS.

Produk Kimia, Farmasi, dan Alat Kesehatan

AS juga merupakan pemasok penting untuk produk kimia organik, peralatan medis canggih, dan produk farmasi bagi Indonesia. Dalam kerangka ART, fasilitasi TKDN (Tingkat Komponen Dalam Negeri) diberlakukan secara terbatas untuk produk teknologi informasi dan komunikasi, data center, dan alat kesehatan AS, dengan tetap memenuhi pengaturan impor dan pengawasan oleh kementerian teknis terkait.

Dampak Perjanjian ART terhadap Impor Indonesia dari AS

Penandatanganan ART pada Februari 2026 menandai babak baru dalam hubungan dagang kedua negara. Selain penurunan tarif resiprokal, sejumlah komoditas ekspor unggulan Indonesia seperti minyak kelapa sawit, kopi, kakao, karet, komponen elektronik termasuk semikonduktor, dan komponen pesawat terbang akan menikmati tarif 0% ke pasar AS.

Sebagai timbal balik, Indonesia membuka akses lebih luas bagi produk AS. Total ada 1.819 pos tarif yang diatur dalam ART. Bagi pelaku usaha Indonesia, memahami dinamika ini sangat penting untuk mengidentifikasi peluang dan tantangan di pasar domestik maupun ekspor.

Perjanjian ini juga mencakup kesepakatan di bidang ekosistem semikonduktor, yang bertujuan mempercepat transformasi industri teknologi tinggi Indonesia. Data BPS menunjukkan bahwa total ekspor Indonesia sepanjang Januari-Desember 2025 mencapai US$282,91 miliar, naik 6,15% dibanding tahun sebelumnya, menandakan pertumbuhan yang sehat di kedua sisi perdagangan.

Baca juga: Top 5 Ekspor Indonesia Berdasarkan Negara pada Kuartal I 2025

Bagaimana TradeInt Indonesia Membantu Anda Memantau Data Impor Indonesia dari AS?

Bagi importir, eksportir, dan pelaku bisnis yang ingin memahami lebih dalam mengenai pola impor Indonesia dari Amerika Serikat, TradeInt Indonesia menyediakan platform intelijen perdagangan yang komprehensif. Dengan akses ke lebih dari 10 miliar catatan pengiriman dari 200+ negara dan 500+ juta profil perusahaan, TradeInt memungkinkan Anda untuk:

  • Melacak data pengiriman berdasarkan kode HS, nama produk, atau nama perusahaan untuk mengidentifikasi pemasok dan pembeli terverifikasi dari AS.
  • Menganalisis tren impor Indonesia dari Amerika berdasarkan data Bill of Lading yang terperinci.
  • Mengidentifikasi peluang pasar baru dan memantau aktivitas rantai pasok kompetitor.

Kesimpulan

Pertanyaan "Indonesia impor apa saja dari Amerika" kini memiliki jawaban yang semakin jelas dan terstruktur. Dengan adanya perjanjian ART 2026, impor Indonesia dari AS mencakup tiga pilar besar: produk energi (US$15 miliar), pesawat terbang dan komponen kedirgantaraan (US$13,5 miliar), serta produk pertanian (US$4,5 miliar). Ditambah dengan mesin industri, peralatan teknologi, dan produk farmasi, hubungan dagang Indonesia-AS terus menjadi komponen vital bagi perekonomian nasional.

Perjanjian ART juga membuka peluang bagi eksportir Indonesia untuk menikmati tarif yang lebih rendah ke pasar AS, khususnya untuk komoditas unggulan seperti minyak sawit, kakao, dan tekstil. Dinamika perdagangan bilateral ini menciptakan ekosistem yang saling menguntungkan bagi kedua negara.

Bagi pelaku usaha yang ingin memanfaatkan peluang dari dinamika perdagangan ini, TradeInt Indonesia menyediakan data intelijen perdagangan yang lengkap dan dapat diandalkan untuk pengambilan keputusan bisnis yang lebih akurat.

FAQ (Pertanyaan yang Sering Diajukan)

Apa yang dibeli Indonesia dari Amerika Serikat?

Indonesia membeli berbagai komoditas strategis dari AS, termasuk produk energi (LPG, minyak mentah, gasoline), pesawat terbang komersial dan komponen kedirgantaraan, produk pertanian (kedelai, gandum, kapas, jagung, buah-buahan segar), mesin dan peralatan industri, serta produk kimia dan farmasi. Total komitmen impor dalam kerangka ART 2026 mencapai lebih dari US$33 miliar.

Indonesia paling banyak mengimpor apa?

Secara keseluruhan, produk impor utama Indonesia didominasi oleh minyak dan gas (sekitar 17% dari total impor), mesin dan peralatan mekanis (19%), besi dan baja (5,4%), bahan kimia organik (4,8%), dan kendaraan (4,5%). Tiongkok merupakan pemasok impor terbesar (25%), diikuti Jepang (11%), Singapura (7,6%), Thailand (6,8%), dan AS (6,4%). Meskipun pangsa AS terlihat lebih kecil dibanding Tiongkok, nilai absolut impor dari AS tetap sangat signifikan mengingat fokusnya pada produk berteknologi tinggi dan komoditas strategis.

Barang apa saja yang diimpor ke Indonesia?

Indonesia mengimpor beragam barang dari berbagai negara, termasuk bahan bakar mineral, mesin dan peralatan mekanis, peralatan listrik dan elektronik, besi dan baja, bahan kimia organik, kendaraan bermotor, plastik dan produk turunannya, serta komoditas pertanian seperti kedelai, gandum, dan produk susu. Nilai impor Indonesia pada Januari-Desember 2025 mencapai US$241,86 miliar, naik 2,83% dibanding tahun sebelumnya.

Produk Amerika yang Laris di Indonesia?

Produk AS yang paling diminati di pasar Indonesia antara lain kedelai (bernilai US$1,26 miliar, dengan volume 2,5-2,6 juta metrik ton per tahun dan 90% berasal dari AS), LPG untuk kebutuhan rumah tangga dan industri, pesawat Boeing untuk maskapai penerbangan nasional, gandum untuk industri makanan dan minuman, serta berbagai peralatan teknologi tinggi termasuk komponen semikonduktor dan alat kesehatan. Dengan adanya tarif 0% untuk kedelai dan gandum melalui ART, produk-produk ini diprediksi akan semakin laris di Indonesia.