Top 5 Ekspor Indonesia Berdasarkan Negara pada Kuartal I 2025
Apa 5 Negara Tujuan Ekspor Utama Indonesia pada Kuartal I 2025?
Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan TradeInt, lima negara tujuan ekspor utama Indonesia pada kuartal I tahun 2025 adalah China, Amerika Serikat, India, Jepang, dan Singapura.
- China: US$14,04 miliar (~22,9%) – Impor utama: besi & baja, bahan bakar mineral, nikel, minyak sawit.
- Amerika Serikat: US$7,30 miliar (~11,9%) – Didorong oleh permintaan elektronik, pakaian, alas kaki, dan karet.
- India: US$4,28 miliar (~8,7%) – Didominasi oleh minyak sawit dan batu bara.
- Jepang: US$4,05 miliar (~7,9%) – Mengimpor batu bara, tembaga, komponen otomotif, dan hasil laut.
- Singapura: US$4,32 miliar (~7%) – Berperan sebagai hub re-ekspor untuk produk minyak bumi, bahan kimia, dan elektronik.
| Peringkat | Negara | Perkiraan Nilai Impor (USD) | Pangsa Total Ekspor | Sektor Impor Utama | Catatan |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | China | $14,04 miliar | 22,9% | Besi & baja, bahan bakar mineral, nikel, minyak sawit, mesin | China tetap menjadi pembeli terbesar, terutama untuk mineral mentah dan minyak sawit, yang terutama digunakan untuk mendorong manufaktur industri dan permintaan energi China. |
| 2 | Amerika Serikat | $7,30 miliar | 11,9% | Mesin listrik, pakaian jadi, alas kaki, karet, minyak sawit | Impor AS terus meningkat, didorong oleh pakaian jadi, alas kaki, elektronik, dan semikonduktor. |
| 3 | India | $4,28 miliar | 8,7% | Minyak sawit, batu bara, karet, minyak hewani/nabati | Permintaan India dipimpin oleh minyak sawit dan batu bara, komoditas ekspor Indonesia yang kritis ke India. |
| 4 | Jepang | $4,05 miliar | 7,9% | Batu bara, tembaga, nikel, otomotif, karet, seafood | Jepang terutama mengimpor energi (batu bara), logam, dan produk otomotif & karet. |
| 5 | Malaysia | $3,42 miliar | 5,0% | Bahan bakar mineral dan minyak (briket batu bara), asam lemak (minyak sawit), pupuk kimia | Peluang ada bagi eksportir Indonesia di energi, kimia, dan bahan mentah karena Malaysia terus berfungsi sebagai pusat pengolahan regional. |
Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia dan www.tradeint.id
Hubungan ekonomi kedua negara menunjukkan pertumbuhan perdagangan yang kuat dan saling melengkapi. Impor India dari Indonesia berfokus pada batu bara, minyak sawit, dan mineral, sedangkan ekspor India ke Indonesia mencakup produk minyak bumi olahan, produk pertanian, kendaraan, serta peralatan telekomunikasi.
| Periode | Nilai Ekspor (Miliar USD) |
|---|---|
| Q1 2020 | 41,8 |
| Q1 2021 | 48,9 |
| Q1 2022 | 66,1 |
| Q1 2023 | 67,1 |
| Q1 2024 | 62,3 |
| Q1 2025 | 66,6 |
Sumber: www.tradeint.id
#1. Top 1 Ekspor Indonesia Berdasarkan Negara pada Kuartal I 2025: China – US$14,04 Miliar
Mengapa China Menjadi Pasar Utama? Dengan nilai ekspor lebih dari $14,04 miliar, China mewakili lebih dari seperlima dari total angka ekspor Indonesia pada Kuartal I 2025 dan menjadi destinasi ekspor terbesar selama periode ini.
Kategori ekspor yang paling signifikan ke China adalah logam dan bahan bakar mineral. Baja memimpin daftar, menyumbang hampir 29,2% dari seluruh pengiriman. Impor logam terbesar kedua adalah nikel, yang mewakili 10,1% dari total angka China. Keduanya merupakan input penting bagi industri China yang berkembang pesat, terutama di sektor konstruksi, elektronik, dan kendaraan listrik.
China juga mengimpor bahan bakar dan minyak mineral senilai lebih dari $3,4 miliar dari Indonesia untuk mendukung konsumsi energinya yang meningkat pesat, yang pertumbuhannya telah terjadi di berbagai sektor. Pada tahun 2024, sektor dengan peningkatan konsumsi energi tahunan (year-on-year) paling tajam adalah peternakan, perikanan, dan pertanian.
Sektor lain yang patut dicatat adalah minyak hewani dan nabati, khususnya minyak kelapa sawit, yang memiliki nilai signifikan dalam industri pengolahan makanan dan kosmetik China. Para analis memprediksi China mungkin mengimpor hingga 8 juta ton minyak kelapa sawit pada akhir tahun 2025.
| Produk | Pangsa (%) |
|---|---|
| Baja | 29,16 |
| Bahan bakar mineral | 20,50 |
| Nikel | 10,13 |
| Minyak nabati dan hewani | 8,05 |
| Lainnya | 32,16 |
Sumber: www.tradeint.id
Apa Saja yang Menjadi Faktor Pendorong?
- Perjanjian RCEP dan ASEAN-China FTA yang menghapus tarif
- Kebutuhan China akan bahan baku untuk manufaktur
- Kebijakan Indonesia yang mendorong ekspor produk olahan
#2. Top 2 Ekspor Indonesia Berdasarkan Negara pada Kuartal I 2025: Amerika Serikat – US$7,3 Miliar
Perubahan Tarif Tapi Permintaan Tetap Kuat. Keunggulan Indonesia Terletak pada Marginnya Amerika Serikat tetap menjadi pembeli terbesar Indonesia di luar Asia dengan nilai $7,3 miliar di Q1 2025, menghasilkan surplus perdagangan $4,3 miliar bagi Indonesia.
Kategori Ekspor Utama ke AS
- Elektronik & motor (16,7%): Komponen untuk sektor teknologi dan peralatan rumah tangga AS
- Pakaian jadi, kulit, dan alas kaki: Diversifikasi dari China
- Bahan makanan (kakao, produk berbasis sawit): Mendukung industri makanan kemasan AS
Pemerintahan Trump menurunkan tarif impor Indonesia dari 32% menjadi 19% pada Juli 2025, menunjukkan bahwa Indonesia masih dipandang sebagai mitra perdagangan yang menguntungkan.
Berbeda dengan kawasan sumber export lain yang tidak stabil, Indonesia menawarkan skala produksi besar, stabilitas kebijakan, dan keunggulan biaya tenaga kerja yang merupakan kombinasi langka pada tahun 2025.
Di saat zona sumber global menghadapi gangguan yang meningkat dan volatilitas biaya yang tinggi, pembeli asal AS menghadapi risiko keterlambatan pengiriman serta tekanan pada margin. Kondisi ini menjadikan sektor manufaktur Indonesia seperti furnitur dan komponen pintar sebagai poros strategis yang tidak dapat mereka abaikan.
#3. Top 3 Ekspor Indonesia Berdasarkan Negara pada Kuartal I 2025: India – US$4,28 Miliar
Tantangan Jangka Pendek, Peluang Jangka Panjang Dengan pangsa pasar sebesar 6,43% dari total ekspor, India menjadi tujuan ekspor terbesar ketiga bagi Indonesia pada kuartal I tahun 2025, dengan nilai mencapai US$4,28 miliar. Namun, angka ini menunjukkan penurunan hampir 14% dibandingkan periode yang sama tahun 2024, menurut database perdagangan global TradeInt. Penurunan tersebut sebagian disebabkan oleh pembatasan impor baru serta perlambatan ekonomi global secara keseluruhan.
Meskipun terjadi penurunan, India tetap menjadi pasar strategis bagi ekspor Indonesia berdasarkan negara tujuan. Catatan TradeInt menunjukkan bahwa batu bara dan briket menyumbang 31,9% dari ekspor ke India, mencerminkan tingginya permintaan energi dari negara tersebut untuk mendukung pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan industrinya.
Selain itu, industri pengolahan makanan yang besar dan tingginya konsumsi minyak nabati menjadikan India pembeli utama minyak sawit Indonesia, yang menyumbang 16,5% dari total ekspor.
Hubungan ekonomi antara India dan Indonesia terus mengalami pertumbuhan signifikan. Indonesia kini telah menjadi mitra dagang terbesar India di kawasan ASEAN setelah Singapura. Nilai perdagangan bilateral keduanya berada di bawah US$30 miliar, dan diperkirakan dapat meningkat hingga empat kali lipat dalam 10 tahun ke depan. Pertumbuhan pesat ini sebagian didorong oleh investasi perusahaan India di sektor bahan baku Indonesia, termasuk farmasi, agri tech, dan pertambangan.
| Tahun | Nilai Perdagangan (Miliar USD) |
|---|---|
| 2020 | 17.9 |
| 2021 | 24.68 |
| 2022 | 26.04 |
| 2023 | 38.84 |
| 2024 | 29.4 |
Sumber: World Bank, WTO
Hubungan ekonomi kedua negara menunjukkan pertumbuhan perdagangan yang kuat dan saling melengkapi. Impor India dari Indonesia berfokus pada batu bara, minyak sawit, dan mineral, sedangkan ekspor India ke Indonesia mencakup produk minyak bumi olahan, produk pertanian, kendaraan, serta peralatan telekomunikasi.
#4. Top 4 Ekspor Indonesia Berdasarkan Negara pada Kuartal I 2025: Jepang – US$4,05 Miliar
Kebutuhan Energi Ramah Lingkungan Jepang Menguntungkan Indonesia
Di posisi keempat, Jepang mengimpor barang senilai US$4,05 miliar dari Indonesia pada kuartal I 2025, atau sekitar 6,09% dari total ekspor Indonesia.
Permintaan impor Jepang didorong oleh ketergantungannya yang tinggi pada energi dan bahan baku. Jepang merupakan konsumen energi terbesar kelima di dunia dan hampir seluruh kebutuhan energinya dipenuhi melalui impor. Bahan bakar mineral dan minyak termasuk batu bara, briket, dan gas bumi menjadi kategori ekspor terbesar Indonesia ke Jepang, menyumbang 29,3% dari total ekspor.
Selain bahan bakar, Jepang juga mengimpor motor, peralatan listrik, dan komponennya (10,1%), serta nikel dan produk turunannya (6,4%). Permintaan terhadap nikel terus meningkat karena perannya yang penting dalam produksi baterai dan baja, yang merupakan sektor utama dalam transisi industri dan energi Jepang.
Hubungan dagang kedua negara terus diperkuat melalui Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA), yang menghapus tarif untuk 80% barang yang diperdagangkan. Selain itu, kerangka kerja yang lebih luas seperti kerja sama perdagangan ASEAN - Jepang juga turut mendorong peningkatan volume perdagangan.
Fokus Jepang pada dekarbonisasi dan energi berkelanjutan telah mendorong lonjakan permintaan impor biomassa dari Indonesia. Pada Juni 2025, perusahaan Jepang berkomitmen untuk mengimpor 640.000 ton biomassa dari Indonesia guna mendukung program energi ramah lingkungan mereka. Hal ini menempatkan Indonesia sebagai pemasok tepercaya bahan baku bersertifikasi rendah emisi dalam supply chain energi ramah lingkungan Jepang.
#5. Top 5 Ekspor Indonesia Berdasarkan Negara pada Kuartal I 2025: Malaysia – US$3,42 Miliar
Ini bukan kompetisi, ini integrasi ASEAN
Malaysia menempati posisi kelima sebagai tujuan ekspor utama Indonesia, dengan nilai sebesar US$3,42 miliar atau sekitar 5,14% dari total ekspor pada kuartal I tahun 2025.
Meskipun merupakan salah satu eksportir minyak dan gas terbesar di dunia, Malaysia semakin bergantung pada bahan bakar mineral dan minyak dari Indonesia karena konsumsi domestik yang terus meningkat serta rencana transisi menuju energi terbarukan. Produk kimia termasuk elemen tanah yang langka dan senyawa organik juga menyumbang porsi signifikan dari ekspor karena kapasitas produksi dalam negerinya mengalami stagnasi.
Dari total nilai ekspor US$3,42 miliar tersebut, minyak hewani dan minyak sawit menyumbang hampir 70%. Meskipun Malaysia merupakan eksportir minyak sawit terbesar kedua di dunia, negara tersebut tetap mengimpor minyak sawit dari Indonesia untuk mendukung industri penyulingannya. Strategi ini juga membantu Malaysia mengamankan pasokan dibandingkan hanya mengandalkan produksi domestik semata.
Prospek Ekspor Indonesia 2025 dan Selanjutnya
Strategi ekspor Indonesia tengah mengalami pergeseran besar baik dari sisi kategori produk maupun pasar tujuan. Keputusan pemerintah untuk melarang ekspor bahan mineral mentah dan mendorong hilirisasi telah mengarahkan para produsen pada produk dengan nilai tambah tinggi seperti baja berbasis nikel, baterai kendaraan listrik, dan produk kimia olahan. Perubahan ini diperkirakan akan memperluas jangkauan Indonesia ke pasar negara maju maupun berkembang.
Dinamika Pasar yang Berubah
China tetap menjadi pasar ekspor terbesar Indonesia, namun nilai ekspor ke negara tersebut diperkirakan menurun pada 2025 karena perlambatan pertumbuhan ekonominya. Hal serupa juga diperkirakan terjadi pada ekspor Indonesia ke India, terutama untuk batu bara termal, seiring dengan menurunnya permintaan. Selain itu, ekspor minyak sawit Indonesia ke India juga mengalami penurunan.
Sebaliknya, ekspor ke Amerika Serikat, Eropa, dan negara-negara ASEAN diproyeksikan mencatat pertumbuhan yang signifikan. Pasar AS diperkirakan akan menjadi pendorong utama pertumbuhan pada 2025, berkat kesepakatan dagang baru yang telah dicapai kedua negara. Keunggulan Indonesia dalam produk manufaktur dan komoditas berbiaya kompetitif juga membantu menjaga permintaan AS tetap kuat, meskipun dihadapkan pada tantangan tarif.
Ekspor ke negara-negara ASEAN diprediksi tumbuh stabil berkat integrasi regional melalui berbagai kerangka kerja ASEAN dan keterhubungan rantai pasok yang berkelanjutan, terutama di sektor bahan bakar mineral, minyak sawit, peralatan listrik, dan produk olahan. Saat ini, Indonesia telah memiliki 19 perjanjian perdagangan bebas bilateral dan multilateral yang memperluas akses pasar ke ASEAN, China, Australia, dan Jepang.
Selain itu, Indonesia sedang dalam tahap akhir penyelesaian perjanjian perdagangan dengan Uni Eropa (EU) dan Eurasian Economic Union (EAEU), yang akan membuka akses pasar yang lebih luas untuk produk-produk seperti minyak sawit, perikanan, dan komponen otomotif.
TradeInt: Mendukung Keputusan Ekspor yang Lebih Cerdas
Keadaan ekspor Indonesia terus berkembang, dipengaruhi oleh perubahan permintaan global, reformasi regulasi, dan perjanjian akses pasar baru. Dalam kondisi ini, kemampuan untuk memantau data perdagangan secara real time berdasarkan negara, kategori produk, dan mitra dagang menjadi semakin penting.
TradeInt menyediakan solusi tepat untuk kebutuhan tersebut, mulai dari analisis data level HS-code, analisis rute perdagangan, hingga pemantauan pasar di kawasan ASEAN, China, India, Amerika Serikat, dan lainnya.
Bagi para pelaku usaha dan analis yang membutuhkan kejelasan di tengah peta perdagangan global yang semakin kompleks, TradeInt menghadirkan visibilitas yang dapat ditindaklanjuti, didukung oleh kecerdasan berbasis data.