Komoditas Ekspor Pertanian Indonesia 2026: 10 Produk Unggulan dan Peluang Pasarnya
Data Komoditas Eksport Pertanian Indonesia
- Minyak sawit dan turunannya menjadi komoditas ekspor pertanian terbesar Indonesia dengan nilai US$14,06 miliar pada Januari-Mei 2026, memimpin jauh di atas kategori lainnya.
- Karet alam mendominasi produk karet dengan pangsa 44,34% dalam kategorinya, diikuti ban pneumatik baru sebagai produk olahan terbesar kedua.
- Kementerian Pertanian menyatakan Indonesia telah mencapai swasembada delapan komoditas pangan strategis, membuka pintu ekspor bagi surplus produksi nasional.
- Ekspor kopi ditargetkan mencapai US$5,5 miliar dalam jangka panjang, naik lebih dari dua kali lipat dari posisi saat ini senilai sekitar Rp 40 triliun.
- Kakao, tembakau, dan produk pangan olahan menyumbang gabungan nilai lebih dari US$2,5 miliar pada periode Januari-Mei 2026.
- Dari 12 komoditas pangan strategis, hanya tiga yang masih membutuhkan pasokan luar negeri: bawang putih, daging sapi, dan kedelai.
Bagaimana kinerja ekspor pertanian Indonesia sepanjang 2026?
Sektor pertanian Indonesia memasuki 2026 dengan posisi yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Bukan sekadar mempertahankan ekspor komoditas lama, melainkan mulai membuka jalur ekspor dari komoditas yang sebelumnya hanya cukup untuk konsumsi dalam negeri.
Menurut Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Indonesia telah mencapai swasembada delapan komoditas pangan strategis, meliputi beras, jagung, cabai besar, cabai rawit, gula konsumsi, ayam, telur, dan bawang merah. Cadangan beras pemerintah melampaui 5 juta ton, angka tertinggi sepanjang sejarah, sementara sektor pertanian tumbuh 5,74% dalam PDB.
Sebelumnya, ekspor terkonsentrasi pada komoditas perkebunan berbasis lahan besar seperti minyak sawit dan karet. Kini, surplus produksi pangan membuka peluang ekspor untuk komoditas yang berbasis petani kecil dan koperasi.
Nilai Tukar Petani (NTP) mencapai 127,73 pada Mei 2026, sementara harga kopi di tingkat petani naik dari sekitar Rp 50.000 menjadi Rp 110.000 per kilogram dalam beberapa bulan terakhir menurut Jakarta Globe.

Beberapa hal yang membentuk gambaran ekspor pertanian tahun ini:
- Swasembada delapan komoditas. Membuka ruang ekspor surplus tanpa mengorbankan kebutuhan dalam negeri, menurut ANTARA.
- Target ekspor kopi: US$5,5 miliar. Lebih dari dua kali lipat nilai ekspor kopi saat ini, ditargetkan Kementerian Pertanian.
- NTP tertinggi sepanjang sejarah: 127,73. Mencerminkan daya beli petani yang membaik.
- PDB pertanian tumbuh 5,74%. Menandai sektor ini sebagai salah satu pendorong ekspor nonmigas.
- Cadangan beras: lebih dari 5 juta ton. Pemerintah menjajaki ekspor beras ke pasar seperti Singapura dan Arab Saudi.
πΏ Lacak Pembeli Produk Pertanian Indonesia
Dari India yang membeli sawit hingga Eropa yang mencari kopi spesialti, jejak pembeli tersimpan lengkap di database TradeInt. Setiap pengiriman tercatat, setiap pembeli bisa dilacak.
Mulai penelusuran: Buka data ekspor pertanian Indonesia
Apa saja 10 komoditas ekspor pertanian terbesar Indonesia?
Minyak sawit dan produk turunannya memimpin ekspor pertanian Indonesia dengan nilai US$14,06 miliar pada Januari-Mei 2026. Karet dan produknya menyusul dengan US$2,36 miliar, sementara produk kertas dan karton dari kayu melengkapi tiga besar dengan US$1,94 miliar.
Kayu dan produk kayu, pulp kayu, tembakau, kakao, produk pangan olahan, serealia olahan, serta produk ikan dan hasil laut mengisi peringkat berikutnya dalam data TradeInt.
Lima komoditas pertanian ekspor teratas:
- Minyak sawit dan turunannya (US$14,06 miliar) - Komoditas tunggal dengan nilai terbesar, ditopang program B50 yang mempertahankan harga CPO domestik.
- Karet dan produknya (US$2,36 miliar) - Karet alam mendominasi, dengan karet sintetis dan ban pneumatik sebagai produk olahan utama.
- Kertas, karton, dan produk pulp (US$1,94 miliar) - Didominasi kertas tanpa lapisan untuk percetakan dan kemasan.
- Kayu dan produk kayu (US$1,52 miliar) - Kayu lapis memimpin dengan pangsa 41,35% dari total kategori ini.
- Pulp kayu dan selulosa (US$1,42 miliar) - Alkaline wood pulp atau sulphate wood pulp menguasai 75,59% dari total kategori.
| # | Kode HS | Komoditas | Nilai (US$) | % | Top Buyer |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 15 | Minyak sawit, lemak, dan minyak nabati | 14,06B | 12,19% | π Buka di TradeInt |
| 2 | 40 | Karet dan produk karet | 2,36B | 2,04% | π Buka di TradeInt |
| 3 | 48 | Kertas, karton, dan produk pulp | 1,94B | 1,69% | π Buka di TradeInt |
| 4 | 44 | Kayu dan produk kayu; arang | 1,52B | 1,31% | π Buka di TradeInt |
| 5 | 47 | Pulp kayu dan selulosa | 1,42B | 1,23% | π Buka di TradeInt |
| 6 | 24 | Tembakau dan produk pengganti tembakau | 1,02B | 0,88% | π Buka di TradeInt |
| 7 | 18 | Kakao dan produk kakao | 978,52M | 0,85% | π Buka di TradeInt |
| 8 | 21 | Produk makanan olahan | 809,15M | 0,70% | π Buka di TradeInt |
| 9 | 19 | Serealia, tepung, pati, dan produk roti | 699,79M | 0,61% | π Buka di TradeInt |
| 10 | 16 | Produk ikan, udang, kerang, dan invertebrata laut | 676,48M | 0,59% | π Buka di TradeInt |
Sumber: Data Ekspor Indonesia TradeInt, Januari-Mei 2026.
Baca juga:
5 Komoditas Pertanian Unggulan dari Indonesia, Ada Apa Saja?
Minyak sawit
Minyak sawit mentah (CPO) dengan kode 1511 mendominasi ekspor kategori ini dengan nilai US$9,59 miliar, menyumbang 68,17% dari total. Minyak inti sawit dan kelapa (1513) menyusul dengan US$1,71 miliar, sementara margarin dan minyak nabati olahan (1517) menempati posisi ketiga senilai US$1,20 miliar.
Produk-produk turunan lainnya termasuk minyak nabati terhidrogenasi (1516) senilai US$1,20 miliar dan gliserin mentah (1520) senilai US$265,60 juta.
| # | Kode HS | Produk | Nilai (US$) | % | Harga/Kuantitas |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 1511 | Minyak sawit mentah (CPO) | 9,59B | 68,17% | π Buka di TradeInt |
| 2 | 1513 | Minyak inti sawit dan kelapa | 1,71B | 12,19% | π Buka di TradeInt |
| 3 | 1517 | Margarin dan minyak nabati olahan | 1,20B | 8,55% | π Buka di TradeInt |
| 4 | 1516 | Minyak nabati terhidrogenasi | 1,20B | 8,52% | π Buka di TradeInt |
| 5 | 1520 | Gliserin mentah | 265,60M | 1,89% | π Buka di TradeInt |
Sumber: Data Ekspor Indonesia TradeInt, Januari-Mei 2026.
Minyak sawit menjadi satu-satunya komoditas ekspor pertanian yang mengalami perubahan mekanisme distribusi secara langsung tahun ini. Sejak 1 Juni 2026, minyak sawit masuk dalam sistem gerbang tunggal yang dikelola PT Danantara Sumberdaya Indonesia, bersama batu bara dan feroalloy. Perubahan ini mengubah cara harga terbentuk antara eksportir Indonesia dan pembeli internasional.
Program biodiesel B50 menjadi sisi lain yang menekan neraca antara ekspor dan konsumsi domestik. Semakin besar volume CPO yang diserap dalam negeri untuk campuran biodiesel, semakin kecil volume yang tersedia untuk ekspor. Di sisi lain, harga CPO domestik terjaga karena ada permintaan yang dipastikan dari program mandatori tersebut.
Di pasar global, India, Pakistan, dan China tetap menjadi pembeli terbesar. Pasar Eropa memberikan tekanan tambahan seiring tenggat EUDR (European Union Deforestation Regulation) mendekat, mendorong eksportir meningkatkan standar keterlacakan hingga tingkat perkebunan.

Baca juga:
Karet
Karet alam (4001) memimpin dengan nilai US$1,05 miliar dan pangsa 44,34% dari total kategori. Ban pneumatik baru (4011) menyusul dengan US$684,56 juta, menandai posisi Indonesia sebagai eksportir produk karet olahan, bukan hanya bahan mentah.
| # | Kode HS | Produk | Nilai (US$) | % | Harga/Kuantitas |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 4001 | Karet alam dan balata | 1,05B | 44,34% | π Buka di TradeInt |
| 2 | 4011 | Ban pneumatik baru | 684,56M | 29,02% | π Buka di TradeInt |
| 3 | 4002 | Karet sintetis | 236,30M | 10,02% | π Buka di TradeInt |
| 4 | 4015 | Sarung tangan dan aksesori karet vulkanisat | 204,75M | 8,68% | π Buka di TradeInt |
| 5 | 4016 | Produk lain dari karet vulkanisat | 49,51M | 2,10% | π Buka di TradeInt |
Sumber: Data Ekspor Indonesia TradeInt, Januari-Mei 2026.
Karet punya dua cerita yang berjalan bersamaan. Karet alam masih mendominasi volume, tetapi pertumbuhannya terbatas oleh apa yang bisa ditanam dan disadap. Ban pneumatik justru menjadi lebih menarik karena nilainya per kilogram jauh lebih tinggi dan tidak sepenuhnya tergantung pada luas kebun.
Harga karet alam di pasar global bergerak mengikuti permintaan dari industri otomotif Asia, terutama China dan India. Ketika produksi kendaraan di kedua negara melambat, tekanan harga langsung dirasakan petani karet di Sumatra dan Kalimantan.
Produk sarung tangan karet tetap punya permintaan stabil dari industri medis global pasca pandemi, meski kapasitas produksi Malaysia dan Thailand juga bertambah. Indonesia belum sepenuhnya memaksimalkan segmen ini meski bahan bakunya tersedia berlimpah.
Kayu
Kayu lapis (4412) memimpin dengan nilai US$627,18 juta dan pangsa 41,35% dari total kategori. Produk konstruksi kayu (4418) menyusul dengan US$218,15 juta, diikuti arang termasuk arang sekam (4402) senilai US$188,20 juta.
| # | Kode HS | Produk | Nilai (US$) | % | Harga/Kuantitas |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 4412 | Kayu lapis (plywood) dan papan berlapis | 627,18M | 41,35% | π Buka di TradeInt |
| 2 | 4418 | Produk kayu konstruksi dan panel dinding | 218,15M | 14,38% | π Buka di TradeInt |
| 3 | 4402 | Arang kayu termasuk arang sekam | 188,20M | 12,41% | π Buka di TradeInt |
| 4 | 4409 | Kayu profil dan papan lantai | 174,56M | 11,51% | π Buka di TradeInt |
| 5 | 4401 | Kayu bakar dan serpihan kayu | 88,97M | 5,87% | π Buka di TradeInt |
Sumber: Data Ekspor Indonesia TradeInt, Januari-Mei 2026.
Kayu lapis Indonesia menghadapi persaingan dari Vietnam dan China di pasar Asia Timur, tetapi mempertahankan posisi di pasar Timur Tengah dan Amerika Selatan yang lebih memperhatikan harga daripada merek asal negara.
Arang kayu menjadi kategori yang menarik perhatian karena permintaan dari pasar Jepang dan Korea Selatan untuk keperluan memasak premium terus meningkat. Arang sekam dan arang buah kelapa sawit punya nilai jual lebih tinggi daripada arang kayu konvensional, dan Indonesia memiliki bahan baku berlimpah dari limbah perkebunan.
Segmen produk konstruksi kayu bergerak mengikuti siklus properti di negara tujuan. Ketika sektor properti Jepang melemah, volume kayu konstruksi yang dikirim ke sana ikut turun meski harganya stabil.
Pulp kayu
Alkaline wood pulp atau sulphate wood pulp (4703) memimpin ekspor kategori ini dengan nilai US$1,08 miliar dan pangsa 75,59% dari total. Chemical wood pulp dissolving grade (4702) menyusul dengan US$266,51 juta, sementara wood pulp mekanik-kimia (4705) melengkapi tiga besar dengan US$72,86 juta.
Produk lainnya termasuk pulp serat selulosa dari kertas daur ulang (4706) senilai US$6,45 juta dan kertas serta karton daur ulang (4707) senilai US$1,42 juta.
| # | Kode HS | Produk | Nilai (US$) | % | Harga/Kuantitas |
|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 4703 | Alkaline/sulphate wood pulp | 1,08B | 75,59% | π Buka di TradeInt |
| 2 | 4702 | Chemical wood pulp dissolving grade | 266,51M | 18,74% | π Buka di TradeInt |
| 3 | 4705 | Wood pulp mekanik-kimia kombinasi | 72,86M | 5,12% | π Buka di TradeInt |
| 4 | 4706 | Pulp serat selulosa dari kertas daur ulang | 6,45M | 0,45% | π Buka di TradeInt |
| 5 | 4707 | Kertas dan karton daur ulang | 1,42M | 0,10% | π Buka di TradeInt |
Sumber: Data Ekspor Kopi Indonesia TradeInt Q1 2026.
Hampir seluruh pulp kayu Indonesia berasal dari hutan tanaman industri (HTI), bukan hutan alam. Pasokannya lebih terprediksi dibanding negara produsen lain, menjadi keunggulan nyata di mata pabrik kertas besar di China, India, dan Korea Selatan yang membutuhkan volume konsisten sepanjang tahun.

Chemical wood pulp dissolving grade menyasar segmen berbeda: bahan baku industri tekstil untuk rayon dan lyocell. Permintaan dari segmen fashion berkelanjutan mendorong harga kategori ini lebih stabil dengan margin per ton yang lebih tinggi dibanding pulp kertas biasa.
- Alkaline wood pulp: 75,59% dari total kategori, tulang punggung ekspor pulp nasional.
- Dissolving grade tumbuh lebih cepat seiring permintaan tekstil berbasis selulosa di Eropa dan Asia Timur.
- Konsentrasi pembeli di Asia Timur menjadi risiko utama ketika satu pasar besar melambat.
Baca juga:
Data Ekspor Kopi Indonesia (Q1/2026): Negara Tujuan, Jenis Kopi, dan Eksportir Utama
Bagaimana cara menemukan pemasok pertanian Indonesia?
Mencari pemasok produk pertanian Indonesia membutuhkan pendekatan yang berbeda dari komoditas industri biasa. Rantai pasoknya bertingkat: dari petani kecil ke pengumpul, ke eksportir, baru ke pembeli internasional. Semakin hilir produknya, semakin sedikit jumlah pemainnya dan semakin mudah dilacak.
Beberapa jalur yang lazim digunakan:
- Platform B2B dan agritech lokal: Platform seperti IndoTrading dan Agromaret menghubungkan eksportir dengan pembeli internasional untuk komoditas seperti rempah, kopi, dan kelapa. Untuk produk yang lebih terstruktur, platform agritech seperti AgriAku dan Gokomodo menghubungkan pembeli langsung ke pengolah dan koperasi.
- Database pemerintah dan asosiasi komoditas: Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) mengelola database eksportir terverifikasi. Asosiasi seperti AEKI (kopi), Gaeki (karet), atau GAPKI (sawit) menyediakan daftar anggota yang sudah lolos standar ekspor dan memiliki rekam jejak pengapalan.
- Verifikasi kemampuan dan sertifikasi pemasok: Untuk produk pertanian bervolume besar seperti sawit dan karet, minta bukti sertifikasi RSPO, ISPO, atau GlobalG.A.P. Untuk kopi dan kakao spesialti, keterlacakan hingga tingkat kebun menjadi syarat masuk di banyak pasar premium.
- Keterlibatan langsung dan logistik: Banyak eksportir agribisnis Indonesia beroperasi melalui WhatsApp untuk negosiasi harga dan konfirmasi pengiriman. Pilih pemasok yang berlokasi dekat dengan pelabuhan ekspor utama: Tanjung Priok (Jakarta) untuk produk Jawa, Tanjung Perak (Surabaya) untuk Jawa Timur dan Indonesia Timur, serta pelabuhan di Sumatra seperti Belawan dan Palembang untuk sawit dan karet.
- Data bea cukai sebagai referensi pembanding: Sebelum menandatangani kontrak dengan pemasok baru, periksa rekam jejak pengapalan mereka menggunakan database Bill of Lading. TradeInt menyimpan lebih dari 10 miliar catatan pengapalan dari 220+ negara, termasuk produk pertanian, yang dapat ditelusuri berdasarkan nama perusahaan, kode HS, dan tujuan pengiriman.
Hubungi tim TradeInt untuk data pemasok pertanian Indonesia
Kesimpulan
Komoditas ekspor pertanian Indonesia pada Januari-Mei 2026 dipimpin minyak sawit senilai US$14,06 miliar, jauh melampaui karet US$2,36 miliar dan produk kertas berbasis kayu US$1,94 miliar. Kakao, tembakau, dan kopi melengkapi daftar dengan gabungan nilai di atas US$2 miliar.
Yang berubah tahun ini bukan hanya angkanya, melainkan arahnya. Swasembada delapan komoditas pangan membuka jalur ekspor baru dari produk yang sebelumnya hanya untuk konsumsi dalam negeri. Harga kopi yang melonjak hampir dua kali lipat memberikan insentif langsung kepada petani. Mekanisme ekspor terpusat mengubah cara perusahaan besar menegosiasikan harga.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa saja komoditas ekspor Indonesia di bidang pertanian?
Komoditas ekspor pertanian terbesar Indonesia meliputi minyak sawit dan turunannya, karet alam dan produk karet, kayu dan produk kayu, pulp kayu, kopi, kakao, tembakau, serta produk pangan dan perikanan olahan. Minyak sawit mendominasi dengan nilai US$14,06 miliar pada Januari-Mei 2026 berdasarkan data TradeInt.
5 komoditas ekspor terbesar di Indonesia?
Lima komoditas ekspor pertanian terbesar Indonesia berdasarkan periode Januari-Mei 2026 adalah minyak sawit dan turunannya (US$14,06 miliar), karet dan produk karet (US$2,36 miliar), kertas dan karton berbasis pulp kayu (US$1,94 miliar), kayu dan produk kayu termasuk arang (US$1,52 miliar), dan pulp kayu serta selulosa (US$1,42 miliar).
3 komoditas ekspor utama Indonesia?
Tiga komoditas ekspor utama Indonesia dari sektor pertanian adalah minyak sawit yang memimpin dengan selisih besar, diikuti karet alam beserta produk olahannya, dan kayu lapis serta produk kayu lainnya. Ketiganya berbasis perkebunan dan hutan tanaman industri yang tersebar di Sumatra, Kalimantan, dan Jawa.
Apa saja komoditas pertanian?
Komoditas pertanian Indonesia mencakup produk perkebunan seperti kelapa sawit, karet, kakao, kopi, teh, dan tembakau; produk pangan seperti beras, jagung, dan sayuran; produk hutan seperti kayu dan pulp; serta hasil perikanan. Dari 12 komoditas pangan strategis, Indonesia kini swasembada untuk delapan di antaranya menurut Kementerian Pertanian.
[]{.lark-record-clipboard}